Jumat, 27 November 2015

Ikatan Kimia

Ikatan kimia adalah sebuah proses fisika yang bertanggung jawab dalam interaksi gaya tarik menarik antara dua atom atau molekul yang menyebabkan suatu senyawa diatomikatau poliatomik menjadi stabil. Penjelasan mengenai gaya tarik menarik ini sangatlah rumit dan dijelaskan oleh elektrodinamika kuantum. Dalam prakteknya, para kimiawan biasanya bergantung pada teori kuantum atau penjelasan kualitatif yang kurang kaku (namun lebih mudah untuk dijelaskan) dalam menjelaskan ikatan kimia. Secara umum, ikatan kimia yang kuat diasosiasikan dengan transfer elektron antara dua atom yang berpartisipasi. Ikatan kimia menjaga molekul-molekulkristal, dan gas-gas diatomik untuk tetap bersama. Selain itu ikatan kimia juga menentukan struktur suatu zat.
Kekuatan ikatan-ikatan kimia sangatlah bervariasi. Pada umumnya, ikatan kovalen dan ikatan ion dianggap sebagai ikatan "kuat", sedangkan ikatan hidrogen dan ikatan van der Waals dianggap sebagai ikatan "lemah". Hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa ikatan "lemah" yang paling kuat dapat lebih kuat daripada ikatan "kuat" yang paling lemah.

Sistem Periodik Unsur

Pengelompokan unsur-unsur berdasarkan kemiripan sifat mengalami perkembangan dari yang paling sederhana hingga modren. Sejarah perkembangan tersebut diuraikan pada materi berikut
A. Perkembangan Dasar Pengelompokan Unsur-unsur
1. Pemgelompokan Unsur Berdasarkan Logam dan Non Logam
Para ilmua arab dan persia membagi unsur-unsur mejadi dua kelompok, yaitu lugham (logam) dan Laysa Lugham (bukan logam) pengelompokan unsur-unsur menjadi logam dan bukan logam berlangsung sampai abad – 19.
2. Hukum Triade Dobereiner
Pada tahun 1829, Johan Wolfgang Dobereiner melihat adanya kemiripan sifat yang ada. Ternyata tiap kelompok terdiri atas tiga unsur, sehingga disebut Triade.
Jika unsur-unsur dalam satu triade tersebut disusun menurut kenaikan massa atom-atomnya, terutama massa atom maupun sifat-sifat unsur yang kedua merupakan rata-rata dari massa atom unsur pertama dan ketiga. Penemuan ini memperlihatkan adanya hubungan antara massa atom dengan sifat-sifat unsur.
Kelemahan pengelompokan ini terletak pada kenyataan bahwa jumlah unsur yang memiliki kemiripan sifat tidak hanya 3 buah.
Tabel Daftar Triade Doberreiner
3. Hukum Oktaf Newlands
Tahun 1864, A.R. Newlands mengunakan penemuannya yang disebut hukum oktaf. Unsur-unsur tersebut disusun berdasarkan kanaikan massa atom relatifnya. Ternyata unsur-unsur yang berselisih 1 oktaf (unsur nomor 1 dengan 8, unsur nomor 2 dengan 9, dst) menujukkan kemiripan sifat atau bisa dikatakan terjadi perubahan sifat unsur yang teratur
Kecendrungan tersebut dinyatakan sebagai hukum Oktaf Nweland, yaitu : jika unsur disusun berdasarkan kenaikan massa atom maka sifat unsur tersebut akan berulang setelah unsur kedelapan.
Tabel pengelompokan unsur dalam Oktaf Newlands
Pada daftar Oktaf Newlands disusun, unsur-unsur gas mulia belum ditemukan ternyata pengelompokan ini hanya sesuai untuk unsur-unsur ringan (Ar rendah).
4. Hukum Mendeleyev
Tahun 1869. Sarjana bangsa Rusia Dmitri Ivanovich Mendeleyev berdasarkan pengamatan terhadap 63 unsur yang sudah dikenal saat itu, menyimpulkan bahwa sifat-sifat  unsur fungsi periodik dari massa atom relatifnya. Hal itu berarti jika unsur-unsur disusun menurut kanaikan massa atom relatif, sifat-sifat tertentu akan berulang secara periodik.
Mendeleyev juga membuat suatu daftar periodik unsur. Unsur-unsur yang mempunyai persamaan sifat ditempatkan dalam satu lajur vertikal yang disebut golongan. Dalam mengelompokkan unsur – unsur yang mempunyai persamaan sifat ditempatkan dalam satu lajur vertikal yang disebut golongan.
Dalam mengelompokan unsur-unsur, medeleyev lebih menekakankan pada persamaan sifat unsur dibandingkan dengan kenaikan massa atom relatif, sehingga terdapat tempat-temat kosong dalam tabel periodik tersebut. Tempat-tempat kosong ini yang kemudian diramalkan akan diisi unsur-unsur yang waktu itu belum ditemukan. Dikemudian hari ramalan itu terbukti dengan menenukan unsur-unsur yang mempunyai sifat-sifat yang mirip sesuai ramalanya.
Kelemahan Tabel Periodik Mendeleyev sebagai berikut.
  1. Penempatan unsur tidak sesuai dengan kenaikan massa atom relatif karena mempertahankan kemiripan sifat unsur dalam satu golongannya.
  2. Masih banyak unsur yang belum dikenal pada massa itu sehingga dalam tabel terdapat banyak tempat kosong.
Tabel Periodik Mendeleyev
5. Tabel Periodik Modren
Tahun 1914, Henry G. J. Moseley menemukan bahwa unsur dalam tabel periodik sesuai kenaikan nomor atom. Tabel periodik modren yang disebut juga tabel periodik bentuk panjang, disusun menurut kenaikan nomor atom dan kemiripan sifat. Tabel periodik modren ini dapat dikatakan sebagai penyempurnaan Tabel Perodik Mendeleyev.
Tabel Periodik bentuk panjang terdiri atas lajur vertikal (golongan) yang disusun menurut kemiripan sifat dan lajur horizontal (periode) yang disusun berdasarkan kenaikan nomor atomnya.
  1. Lajur vertikal (golongan) ditulis dengan angka Romawi terdiri atas 18 golongan.
1)      Golongan A (Golongan Utama)
  1. IA           : Alkali
IIA          : Alkali Tanah
IIIA         : Aliminium
IVA         : Karbon
  1. VA          : Nitrogen
VIA         : Kalkogen
VIIA       : Haologen
VIIIA (o)                : gas mulia
2)      Golongan Transisi/Golongan Tambahan Golongan B), terbagi atas:
a)      Golongan Transisi (Gol.B), yaitu : IIB, IVB, VB, VIB, VIIB, VIIIB (VIII), IB, dan IIB.
b)      Golongan Transisi Dalam, ada dua deret yaitu :
1)      Deret Lantanida (unsur dalam deret ini mempunyai kemiripan sifat dengan
2)      Deret Aktinida (unsur dalam deret ini mempunyai kemiripan sifat dengan
Pada periode 6 golongan IIIB terdapat 14 unsur yang sangat mirip sifatnya, yaitu unsur-unsur Lantanida. Demikian juga pada periode 7 yaitu unsur-unsur Aktinida. Supaya tabel ini tidak terlalu panjang, unsur-unsur tersebut ditempatkan tersendiri pada bagian bawah sistem periodik
Golongan B terletak di antara  Golongan IIA dan IIIA.
Unsur-unsur yang berada dalam satu golongan mempunyai persamaan sifat karena mempunyai elektron valensi (elekron di kulit terluar) yang sama.
  1. Lajur Horizontal (Periode) ditulis dengan angka Arab terdiri atas 7 periode
Periode 1 berisi 2 unsur
Periode 2 berisi 8 unsur
Periode 3 birisi 8 unsur
Periode 4 berisi 18 unsur
Periode 15 berisi 18 unsur
Periode 6 berisi 32 unsur
Periode 7 berisi 23 unsur (belum lengkap)
sumber : https://fathiyaimut.wordpress.com/kimia-kelas-x-2/sistem-periodik/

Redoks

Redoks (singkatan dari reaksi reduksi/oksidasi) adalah istilah yang menjelaskan berubahnya bilangan oksidasi (keadaan oksidasi) atom-atom dalam sebuah reaksi kimia.
Hal ini dapat berupa proses redoks yang sederhana seperti oksidasi karbon yang menghasilkan karbon dioksida, atau reduksi karbon oleh hidrogen menghasilkan metana(CH4), ataupun ia dapat berupa proses yang kompleks seperti oksidasigula pada tubuh manusia melalui rentetan transfer elektron yang rumit.
Istilah redoks berasal dari dua konsep, yaitu reduksi dan oksidasi. Ia dapat dijelaskan dengan mudah sebagai berikut:
Walaupun cukup tepat untuk digunakan dalam berbagai tujuan, penjelasan di atas tidaklah persis benar. Oksidasi dan reduksi tepatnya merujuk pada perubahan bilangan oksidasi karena transfer elektron yang sebenarnya tidak akan selalu terjadi. Sehingga oksidasi lebih baik didefinisikan sebagai peningkatan bilangan oksidasi, dan reduksi sebagai penurunan bilangan oksidasi. Dalam prakteknya, transfer elektron akan selalu mengubah bilangan oksidasi, namun terdapat banyak reaksi yang diklasifikasikan sebagai "redoks" walaupun tidak ada transfer elektron dalam reaksi tersebut (misalnya yang melibatkan ikatan kovalen).
Reaksi non-redoks yang tidak melibatkan perubahan muatan formal (formal charge) dikenal sebagai reaksi metatesis.
  1. Oksidator dan Reduktor

Senyawa-senyawa yang memiliki kemampuan untuk mengoksidasi senyawa lain dikatakan sebagai oksidatif dan dikenal sebagaioksidator atau agen oksidasi. Oksidator melepaskan elektron dari senyawa lain, sehingga dirinya sendiri tereduksi. Oleh karena ia "menerima" elektron, ia juga disebut sebagai penerima elektron. Oksidator bisanya adalah senyawa-senyawa yang memiliki unsur-unsur dengan bilangan oksidasi yang tinggi (seperti H2O2MnO4CrO3, Cr2O72−OsO4) atau senyawa-senyawa yang sangatelektronegatif, sehingga dapat mendapatkan satu atau dua elektron yang lebih dengan mengoksidasi sebuah senyawa (misalnyaoksigenfluorinklorin, dan bromin).
  1. Senyawa-senyawa yang memiliki kemampuan untuk mereduksi senyawa lain dikatakan sebagai reduktif dan dikenal sebagaireduktor atau agen reduksi. Reduktor melepaskan elektronnya ke senyawa lain, sehingga ia sendiri teroksidasi. Oleh karena ia "mendonorkan" elektronnya, ia juga disebut sebagai penderma elektron. Senyawa-senyawa yang berupa reduktor sangat bervariasi. Unsur-unsur logam seperti Li, Na, Mg, Fe, Zn, dan Al dapat digunakan sebagai reduktor. Logam-logam ini akan memberikanelektronnya dengan mudah. Reduktor jenus lainnya adalah reagen transfer hidrida, misalnya NaBH4 dan LiAlH4), reagen-reagen ini digunakan dengan luas dalam kimia organik[1][2], terutama dalam reduksi senyawa-senyawa karbonil menjadi alkohol. Metode reduksi lainnya yang juga berguna melibatkan gas hidrogen (H2) dengan katalis paladiumplatinum, atau nikelReduksi katalitik ini utamanya digunakan pada reduksi ikatan rangkap dua ata tiga karbon-karbon.
    Cara yang mudah untuk melihat proses redoks adalah, reduktor mentransfer elektronnya ke oksidator. Sehingga dalam reaksi, reduktor melepaskan elektron dan teroksidasi, dan oksidator mendapatkan elektron dan tereduksi. Pasangan oksidator dan reduktor yang terlibat dalam sebuah reaksi disebut sebagai pasangan redoks.

Kesetimbagan Ion dalam Larutan

Kesetimbangan larutan berperan penting dalam kehidupan sehari-hari serta berbagai proses biologi dan lingkung.Contohnya,ketika anda melarutkan tablet vitamin C ke dalam air.Mengapa  tablet harus dilarutkan?
Reaksi-reaksi biokima (reaksi kimia dalam tubuh makhluk hidup)kebanyakan hanya dapat berlangsung pada pH tertentu.Untuk manusia dan hewan-hewan vertebrata,pH cairan tubuh yang ideal adalah 7,4sebagaian besar enzim-enzim (katalis pada reaksi biokimia) bekerja secaram optimal pada pH 7,4.Jika pH darah berada di luar harga 7,4 +0,4,hemoglobin tidak  mampu mengikat gas oksigen pada paru-paru.Mahabesar  tuhan yang maha esa yang telah menyediakan larutan penyaga dalam tubuh kita semua,sekalipun seseorang itu tidak  mempelajari ilmu Kimia.
Semua itu merupakan contoh aplikasi dari kesetimbangan larutan.Dapatkah anda menyebutkan aplikasi lain yang erat hubungan dengan kesetimbangan larutan? Dalam bab ini,anda dapat mempelajari kesetimbangan ion dalam larutan penyangga ,larutan garam terhidrolisis,dan larutan dari garam yang sukar larut.

A.Larutan penyangga
Sebagai besar reaksi kimia industri maupun dalam tubuh manusia memerluka pH yang stabil.Agar kondisi  pH reaksi tidak berubah ,biasanya digunakan larutan  penyangga.Apa  yang dimaksud dengan larutan penyangga?
1.campuran penyangga
Larutan penyangga dapat dibentuk melalui beberapa cara,yaitu campuran asam lemah dan basa konjugasinya serta campuran basa lemah dan asam kinjugasinya.
2.Sifat Larutan penyanggaApakah yang akan terjadi ke dalam larutan penyamgga ditambahkan sedikit asa,sedikit basa,atau pengeceran?Apakah pH larutan berubah ataukah tetap?pengaruh penambahan sedikit asam,sedikit basa.
3.Prinsip kerja Larutan penyangga
Pada pembasahan sebelum ,anda telah mempelajari bahwa pH larutan penyangga tidak berubah dengan penambahan air,sedikit asa,atau sedikit basa.
4.Fungsi Larutan penyangga
Sistem larutan penyangga banyak di gunakan dalam reaksi-reaksi kimia,Misalnya,rekasi kimia yang banyak digunakan dalam bidang kesehatan dan reaksi kimia pada tumbuhan,hewan,maupun pada tubuh manusia.

sumber : http://michaelbagus90.blogspot.co.id/

Sistem Koloid

Sistem koloid (selanjutnya disingkat "koloid" saja) merupakan suatu bentuk campuran (sistem dispersi) dua atau lebih zat yang bersifat homogen namun memiliki ukuran partikel terdispersi yang cukup besar (1 - 1000 nm), sehingga mengalami Efek Tyndall. Bersifat homogen berarti partikel terdispersi tidak terpengaruh oleh gaya gravitasi atau gaya lain yang dikenakan kepadanya; sehingga tidak terjadi pengendapan. Misalnya, sifat homogen ini juga dimiliki oleh larutan, namun tidak dimiliki oleh campuran biasa (suspensi).
Koloid mudah dijumpai di mana-mana: susuagar-agartintasampo, serta awan merupakan contoh-contoh koloid yang dapat dijumpai sehari-hari. Sitoplasma dalam sel juga merupakan sistem koloid. Kimia koloid menjadi kajian tersendiri dalam kimia industri karena kepentingannya.
Koloid memiliki bentuk bermacam-macam, tergantung dari fase zat pendispersi dan zat terdispersinya. Beberapa jenis koloid:

  1. Aerosol yang memiliki zat pendispersi berupa gas. Aerosol yang memiliki zat terdispersi cair disebut aerosol cair (contoh: kabut dan awan) sedangkan yang memiliki zat terdispersi padat disebut aerosol padat (contoh: asap dan debu dalam udara).
  2. Sol Sistem koloid dari partikel padat yang terdispersi dalam zat cair. (Contoh: Air sungai, sol sabun, sol detergen, cat dan tinta).
  3. Emulsi Sistem koloid dari zat cair yang terdispersi dalam zat cair lain, namun kedua zat cair itu tidak saling melarutkan. (Contoh: santan, susu, mayonaise, dan minyak ikan).
  4. Buih Sistem Koloid dari gas yang terdispersi dalam zat cair. (Contoh: pada pengolahan bijih logam, alat pemadam kebakaran, beberapa jenis kosmetik, dan lainnya). Ada pula buih padat yang merupakan gas yang terdispersi dalam padat (Contoh: Styrofoam, batu apung, spons, marshmallow)
  5. Gel sistem koloid kaku atau setengah padat dan setengah cair. (Contoh: agar-agar, Lem).

  6. Sifat-sifat koloid :
    • Efek Tyndall
    Efek Tyndall ialah gejala penghamburan berkas sinar (cahaya) oleh partikel-partikel koloid. Hal ini disebabkan karena ukuran molekul koloid yang cukup besar. Efek Tyndall ini ditemukan oleh John Tyndall (1820-1893), seorang ahli fisika Inggris. Oleh karena itu sifat itu disebut efek Tyndall.
    Efek Tyndall adalah efek yang terjadi jika suatu larutan terkena sinar. Pada saat larutan sejati disinari dengan cahaya, maka larutan tersebut tidak akan menghamburkan cahaya, sedangkan pada sistem koloid, cahaya akan dihamburkan. Hal itu terjadi karena partikel-partikel koloid mempunyai partikel-partikel yang relatif besar untuk dapat menghamburkan sinar tersebut. Sebaliknya, pada larutan sejati, partikel-partikelnya relatif kecil sehingga hamburan yang terjadi hanya sedikit dan sangat sulit diamati.
    • Gerak Brown
    Gerak Brown ialah gerakan partikel-partikel koloid yang senantiasa bergerak lurus tapi tidak menentu (gerak acak/tidak beraturan). Jika koloid diamati dibawah mikroskop ultra, maka kita akan melihat bahwa partikel-partikel tersebut akan bergerak membentuk zigzag. Pergerakan zigzag ini dinamakan gerak Brown.
    Partikel-partikel suatu zat senantiasa bergerak. Gerakan tersebut dapat bersifat acak seperti pada zat cair dan gas (dinamakan gerak Brown), sedangkan pada zat padat hanya berosilasi di tempat (tidak termasuk gerak Brown). Untuk koloid dengan medium pendispersi zat cair atau gas, pergerakan partikel-partikel akan menghasilkan tumbukan dengan partikel-partikel koloid itu sendiri. Tumbukan tersebut berlangsung dari segala arah. Oleh karena ukuran partikel cukup kecil, maka tumbukan yang terjadi cenderung tidak seimbang. Sehingga terdapat suatu resultan tumbukan yang menyebabkan perubahan arah gerak partikel sehingga terjadi gerak zigzag atau gerak Brown.
    Semakin kecil ukuran partikel koloid, semakin cepat gerak Brown yang terjadi. Demikian pula, semakin besar ukuran partikel koloid, semakin lambat gerak Brown yang terjadi. Hal ini menjelaskan mengapa gerak Brown sulit diamati dalam larutan dan tidak ditemukan dalam campuran heterogen zat cair dengan zat padat (suspensi).
    Gerak Brown juga dipengaruhi oleh suhu. Semakin tinggi suhu sistem koloid, maka semakin besar energi kinetik yang dimiliki partikel-partikel medium pendispersinya. Akibatnya, gerak Brown dari partikel-partikel fase terdispersinya semakin cepat. Demikian pula sebaliknya, semakin rendah suhu sistem koloid, maka gerak Brown semakin lambat.
    • Adsorpsi
    Adsorpsi ialah peristiwa penyerapan partikel atau ion atau senyawa lain pada permukaan partikel koloid yang disebabkan oleh luasnya permukaan partikel. Adsorpsi harus dibedakan dengan absorpsi yang artinya penyerapan yang terjadi di dalam suatu partikel.
    Contoh:
    (i) Koloid Fe(OH)3 bermuatan positif karena permukaannya menyerap ion H+.
    (ii) Koloid As2S3 bermuatan negatif karena permukaannya menyerap ion S2.
    • Muatan koloid
    Dikenal dua macam koloid, yaitu koloid bermuatan positif dan koloid bermuatan negatif.
    • Koagulasi koloid
    Koagulasi adalah penggumpalan partikel koloid dan membentuk endapan. Dengan terjadinya koagulasi, berarti zat terdispersi tidak lagi membentuk koloid.
    Koagulasi dapat terjadi secara fisik seperti pemanasan, pendinginan dan pengadukan atau secara kimia seperti penambahan elektrolit, pencampuran koloid yang berbeda muatan.
    • Koloid pelindung
    Koloid pelindung ialah koloid yang mempunyai sifat dapat melindungi koloid lain dari proses koagulasi.
    • Dialisis
    Dialisis ialah pemisahan koloid dari ion-ion pengganggu dengan cara mengalirkan cairan yang tercampur dengan koloid melalui membran semipermeabel yang berfungsi sebagai penyaring. Membran semipermeabel ini dapat dilewati cairan tetapi tidak dapat dilewati koloid, sehingga koloid dan cairan akan berpisah.
    • Elektroforesis
    Elektroferesis ialah peristiwa pemisahan partikel koloid yang bermuatan dengan menggunakan arus listrik.

    Senin, 23 November 2015

    Teori Asam-Basa I

    1.       Asam Menurut Lavoisier
    Pada tahun 1777, Lavoisier menyatakan bahwa asam merupakan zat yang mengandung oksigen. Oleh karena itu, Lavoisier memberikan nama oksigen yang berati pembentukan asam. Oksigen bertanggung jawab atas sifat-sifat asam.
    2.       Asam Menurut Humphry Davy
    Pada tahun 1810, Humphry Davy menemukan bahwa hiderogen klorida yang tidak mengandung oksigen bersifat asam. Dengan demikian, Davy menyimpulkan bahwa yang bertanggung jawab atas sifat asam adalah hiderogen, bukan oksigen.
    3.       Asam Menurut Arrhenius
    Pada tahun 1884, Arrhenius mengemukakan teori asam-basa dengan cukup memuaskan. Menurut Arrhenius, asam merupakn zat yang didalam air melepas ion H+, sedangkan basa merupan zat yang didalam air melepas ion OH-. Jika asam Arrhenius, dirumuskan dengan HxA, di dalam air asam akan mengalami ionisasi sebagai berikut :
    HxA(aq)                  xH+(aq) + Ax-(aq)
    Contoh :
    Asam klorida (HCl), asam sulfat (H4SO4), dan asam fosfat (H3PO4) di dalam air akan terionisasi sebagai berikut :
    HCl(aq)                  H+(aq) + Cl-(aq)
    (H4SO4) (aq)                  2H+(aq) + SO42-(aq)
    ( H3PO4) (aq)                  3H+(aq) + SO43-(aq)
    Jumlah ion H+ yang dilepaskan oleh tiap molekul disebut valensi asam.  Sedangkan ion negatif yang melepaskan ion H+ disebut sisa asam.





    Contoh Laporan Hasil Praktikum Konsep Atom

    A.  Judul
    Laporan Hasil Praktikum Spektrum Atom
                  
    B.   Tujuan
    Menyelidiki spektrum atom unsur dari beberapa garam klorida

    C.  Dasar Teori
    ·        Berkas cahaya yang dipancarkan oleh suatu atom jika suatu atom mengalami eksitasi.
    ·        Eksitasi adalah elektron berpindah dari lintasan dalam ke luar dengan menyerap energi, dan jika elektron berpindah dari luar ke dalam disertai memancarkan energi (cahaya)
    ·        Spektrum atom :
    1.     Continyu dalah spektrum lengkap yang terdiri dari berbagai macam warna dalam berbagai panjang gelombang tertentu atau interval yang berkesinambungan.
    2.     Diskontiyu adalah spektrum yang dihasilkan oleh unsur hanya mengandung beberapa garis warna yang berpisah satu sama lain.

    D.  Alat dan Bahan
    ·        Alat
    1.     Spatula
    2.     Cawan porselin
    3.     Botol Semprot
    4.     Korek Api
    ·        Bahan
    1.     NaCl
    2.     KCl
    3.     CaCl2
    4.     Bacl2
    5.     SrCl2
    6.     CrCl3
    7.     C4Cl2

    A.   Cara Kerja
    1.     Siapkan alat dan bahan
    2.     Masukkan garam secukupnya ke dalam cawan
    3.     Tambahkan spirtus pada bahan-bahan itu
    4.     Nyalakan dengan api
    5.     Amati warna nyala dari masing-masing garam yang dibakar

    B.   Hasil Pengamatan
    No
    Garam
    Nama Garam
    Warna Spektrum
    1
    NaCl
    Natrium klorida
    Kuning Keemasan
    2
    KCl
    Kalium klorida
    Ungu, Merah Padam
    3
    CaCl2
    Kalsium klorida
    Merah Bata, Hijau
    4
    BaCl2
    Barium klorida
    Hijau Kekuningan
    5
    SrCl2
    Stronsium klorida
    Merah Padam, Ungu
    6
    CrCl3
    Kromi klorida
    Ungu orange
    7
    CuCl2
    Kupri klorida
    Hijau
    8
    Campuran
    -
    Hijau, Kuning, Biru, Merah

    C.   Pembahasan
    1.     Bagaimana reaksi garam setelah dimasukkan spirtus ? jelaskan !
    Jawab  : garam setelah ditambahkan dengan spiritus lalu dibakar dengan api maka api hasil pembakaran garam akan menghasilkan berbagai macam warna menurut jenis garam yang di bakar.
    2.     Mengapa warna api yang dihasilkan garam klorida berbeda-beda ?
    Jawab  : Karena setiap jenis garam memiliki karakteristik dan zat yang berbeda beda sehingga warna hasil pembakarannya juga berbeda-beda.
    3.     Mengapa reaksi tersebut dapat terjadi ? jelaskan !
    Jawab  : Karena setiap jenis garam dapat menghasilkan warna yang berbeda-beda saat di bakar dan spiritus memiliki sifat yang mudah terbakar. Sehingga percampuran antara garam dan spiritus yang di bakar dapat menghasilkan reaksi tersebut terjadi.
    4.     Mengapa warna garam mempengaruhi warna api ?
    Jawab  : Karena garam memiliki kandungan zat yang dapat menghasilkan warna saat di bakar. Dan pada dasarnya setiap senyawa kimia dapat berubah wujud menjadi gas saat di bakar.
    5.     Mengapa ada beberapa garam yang menghasilkan warna api yang hampir sama ?
    Jawab  : Karena garam tersebut memiliki karakteristik dan unsur yang hampir sama sehingga warna yang di hasilkan juga hampir sama.

    D.   Kesimpulan

    Dari hasil penelitian spektrum unsur atom dapat ditarik kesimpulan bahwa warna nyala pada garam klorida berbeda-beda. Karena disebabkan oleh kandungan (karakteristik & unsur) yang terdapat pada gram klorida tersebut.